Film Hollywood Paling Seru Ditahun 2013


Sobat hari kemarin saya tidak membuat tulisan kerena schadule yang sangat-sangat sibuk mudah-mudahan kali ini tulisannya tidak mengecewakan, sempat berfikir saat menonton film di bioskop apa ya yang menjadi film paling seru tahun 2013, karena emang mau tutup tahun, saat saya baca-baca Bintang online ada yang membahas tenggang hal begini dan langsung saya sharing disini siapa tau membantu


Memang, film-film yang menjadi cenderamata dari tahun sebelumnya yang diputar di bioskop sini menjelang dan tak lama selepas Oscar malah membuat kunjungan ke bioskop terasa bermakna. Lewat film macam Les Miserables, Lincoln, Django Unchained, Silver Linings Playbook, Killing Them Softly, atau Argo yang memenangkan Oscar tahun ini saya mendapat suguhan hiburan terbaik.
Tapi tetap saja, itu semua film-film rilisan tahun lalu. Bukan karya sineas tahun ini.
Nah, hal ini menandakan, film-film terbaik dari Hollywood tahun 2013 rasanya juga baru akan edar di bioskop sini sekitar awal tahun depan, menjelang dan saat musim penghargaan Oscar.
Oleh karena itu tak adil rasanya bila daftar ini dinamai deretan "Film Terbaik" karena yang terbaik dari Hollywood sana belum resmi edar di bioskop sini. Seperti tradisi tahun lalu, daftar ini menggunakan istilah "Paling Asyik", yakni film-film yang ketika disambangi memberi pengalaman menonton paling asyik.
Perlu ditekankan juga, paling asyik tak selalu harus berwujud film yang ringan, seru, atau enak dikunyah. Pengertian paling asyik sangatlah luas dan subjektif. Maka, inilah dia, in my humble opinion, film-film paling mengasyikkan dari Hollywood tahun ini. 

1. Gravity (Sutr. Alfonso Quaron)



Gravity memberi pengalaman menonton yang rasanya takkan dilupakan. inilah film yang menggunakan pengertian film sebagai gambar bergerak (moving picture) dengan maksimal. Hollywood, lewat tangan dingin Alfonso Quaron, kembali berhasil melakukan sesuatu yang jarang: mengawinkan kepandaian bercerita dengan memanfaatkan kecanggihan visual. Coba tengok bagaimana Quaron menggerakkan kamera tanpa putus sambil menyuguhkan adegan dahsyat astronot diserang serpihan pecahan satelit. Bagaimana kamera mengikuti pemainnya seolah berjungkir balik di angkasa rasanya akan terus dipelajari mahasiswa perfilman dan calon sineas hingga bertahun-tahun mendatang. Gravity is Hollywood--in terms of story telling and visual effect--at its best! (Baca ulasan Gravity dan 7 Film Astronot Paling Asyik.)

2. Frozen (Sutr. Chris Buck, Jennifer Lee)



Frozen layak masuk daftar film klasik Disney bersama Snow White, Pinocchio, Cinderella, Sleeping Beauty, The Little mermaid, Beauty and the Beast, Aladdin, dan The Lion King. Inilah film yang tetap mempertahankan cita rasa animasi klasik khas Disney sambil tetap relevan bagi penonton zaman sekarang, generasi millennial penonton Glee dan penyuka musik Lady Gaga dan Taylor Swift. Satu lagi, Frozen juga menandai kembalinya kejayaan animasi Disney--yang tanda-tandanya sudah dimulai sejak The Princess and the Frog, Tangled, dan Wreck-It Ralph--atas sepupu mereka, Pixar. Beberapa tahun terakhir, Pixar seperti kehilangan jimat dengan menghasilkan film-film animasi yang tetap baik, tapi tak cukup istimewa untuk menyamai pencapaian artistik Finding Nemo, Wall-E, atau Toy Story 3. Di lain pihak, Disney lambat laun mengambil tahta itu. Dan Frozen bukti pencapaian mereka. (Baca Frozen bagi generasi Millennial di sini.)

3. Prisoners (Sutr. Dennis Villeneuve)



Bagaimana bisa menonton film yang masa putarnya sekitar 2,5 jam dan berlatar di sebuah kota kecil nan sepi dengan pemain inti tak banyak, masih tetap enak diikuti? Mendapatkan film seperti itu adalah sebuah keistimewaan. Film ini, Prisoners sangat mengasyikkan sekaligus sangat tidak nyaman ditonton. Inilah feel bad movie of the year. Dilema moral yang menandai kesintingan zaman sekarang terkuak di sini. Sahkah kita main hakim sendiri, menyiksa manusia hingga di luar batas kemanusiaan demi orang yang kita cintai kembali ke pangkuan? Sahkah kita, membuat orang lain kehilangan orang yang dicintai demi mereka merasakan yang kita rasakan: bagaimana rasanya kehilangan orang tercinta? Dua pertanyaan yang tak nyaman dan akan sulit dijawab bila Anda sendiri yang berada dalam situasi seperti itu. (Baca ulasan Prisoners di sini.)

4. Fast & Furious 6/ Furious 6 (Sutr. Justin Lin)



Bukan. Film ini dipilih masuk daftar ini bukan lantaran ada Joe Taslim. Bukan pula sebentuk penghormatan pada sang bintangnya, Paul Walker yang telah tiada. Film ini memang memberi sensasi menonton yang mengasyikkan ketika disambangi di bioskop. Sejak Fast Five dua tahun lalu, franchise Fast and Furious telah menjadi salah satu movie event paling ditunggu kehadirannya. Semula, franchise ini punya kisah yang hanya diminati pecinta film aksi dan film mobil balap, namun jagat pengisahannya kemudian melebar menjadi aksi sekelompok jagoan buruan polisi melawan kejahatan dengan merampok gembong penjahat. Penggemarnya pun lantas makin banyak. Twist atau kelokan yang dibangun di film keenam yanng membuat urutan kisahnya menyatu dengan film ketiga membuat film ketujuh yang edar tahun depan kian dinanti. Dan, ah, kematian Paul Walker yang tragis rasanya kian meneguhkan franchise ini ke level salah satu franchise film paling legendaris sepanjang masa. (Tentang timeline franchise Fast & Furious baca di sini.)


5. The Conjuring (sutr. James Wan) 



Salah satu film paling menyeramkan yang pernah saya tonton. Titik.


6. Captain Phillips (Sutr. Paul Greengrass)



Tom Hanks dan Paul Grengrass. Dua nama itu jadi jaminan filmnya bakal mengasyikkan. Benar saja. Di film tentang kapal laut berbendera AS yang dibajak perompak Somalia ini mampu dengan baik mengawinkan akting jempolan Hanks dan ketegangan ala Greengrass seperti yang sudah kita lihat di United 93 (2006). Sebagai Kapten Phillips, Hanks kembali menunjukan akting terbaiknya yang rasanya terakhir kita lihat saat ia berakting di Cast Away (2000). Sementara itu, Greengrass berhasil menyuguhkan tontonan menegangkan tanpa perlu mendramatisir apa pun. Semua terjadi seolah seperti apa adanya. Tapi dari situ filmnya kian terasa menegangkan karena terasa begitu nyata.


7. World War Z (Sutr. Marc Forster)



Bagi pembaca novel aslinya, film ini dianggap berkhianat. Yang sudah baca tentu paham novel asli World War Z: an Oral History of the Zombie yang ditulis Max Brooks, putra sineas Mel Brooks, sejatinya adalah komentar sosial pada situasi geo politik global. Termasuk kritik pada kebijakan luar negeri AS. Sutradara Marc Forster membuang semua perkara plotik itu dan mengemasnya jadi hidangan khas Hollywood: aksi menegangkan, drama ayah (Brad Pitt) melindungi keluarganya, dan efek visual memukau. Ketegangan-ketegangan yang dibangun Forster sangat mengasyikkan. Versi film mungkin berkhianat. Tapi ini "pengkhianatan" yang keren.


8. Thor: The Dark World (Sutr. Alan Taylor)



Bukan Man of Steel atau bukan pula Iron Man 3 film superhero paling asyik tahun ini buat saya. Melainkan Thor: The Dark World. Kenapa? Man of Steel yang punya nama besar Christopher Nolan (produser) dan Zack Snyder (sutradara) tak mampu menyamai kehebatan trilogi Batman rasa Nolan. Iron Man 3 hanya meneruskan apa yang sudah dilakukan dua film sebelumnya: menegaskan Robert Downey Jr. sebagai si manusia besi zaman kita. Di lain pihak, film Thor kedua ini menawarkan sesuatu yang baru: menggabungkan berbagai unsur dari film lain tapi tetap terasa pas ditambah banyolan komikal khas Marvel. Menonton Thor kedua, kita langsung teringat pada The Lord of the Rings dan Star Wars. Dan ah, jangan lupakan juga Thor yang ini memberi porsi lebih pada Loki (Tom Hiddleston). Meski belum menyamai kedahsyatan Heath Ledger sebagai Joker, Hiddleston sangat baik memainkan Loki.


9. About Time (Sutr. Richard Curtis)



Film paling romantis dan menyentuh hati tahun ini persembahan dari sutradara-penulis Richard Curtis yang sudah memberi kita Four Weddings and a Funeral, Bridget Jones's Diary, Notting Hill, dan Love Actually. About Time unggul lantaran mampu mengawinkan konsep sebuah fiksi ilmiah dengan komedi romantis. Filmnya juga tak berhenti jadi kisah cinta yang mendayu-dayu, melainkan punya kisah hubungan ayah-anak yang menyentuh. Tambahan pula, setelah pada 1990-an lalu Curtis menemukan Hugh Grant, sekarang ia menemukan berlian baru komedi romantis khas Inggris: Domhnall Gleeson.


10. The Hunger Games: Catching Fire (Sutr. Francis Lawrence)



Sekali lagi, film ini bukan dipilih lantaran ada unsur Indonesia di dalamnya (gaun pengantin Katniss [Jennifer Lawrence] hasil rancangan Tex Saverio). Melainkan karena sineasnya tak lagi sekadar "main aman" dengan membuat film bagi penonton remaja. Sejatinya, kisah The Hunger Games memang bukan sekadar kisah cinta segitiga Katniss-Peeta (Josh Hutcherson)-Gale (Liam Hemsworth). Tapi juga penuh intrik politik dan kritik atas budaya konten reality show di tengah-tengah kita. Nah, semua itu tersaji dengan baik di film kedua ini. Membuatnya tak sekadar tontonan seru, tapi juga cerdas.



Post a Comment

0 Comments